Lembang, Wisata & Ruwatan Lembur yang Lestari

Inilah keistimewaan Lembang yang memiliki budaya Ruwatan Lembur. Ruwatan Lembur adalah wujud rasa syukur masyarakat Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat atas segala keberkahan yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Acaranya pun telah digelar pada pekan pertama Maret 2020. Dalam Ruwatan Lembur tersebut, ada prosesi menarik yang paling dinanti-nanti oleh warga. Apa itu? Yakni Palagan Toya. Palagan Toya adalah perang air antarwarga yang sebelumnya dibagikan ke dalam dua kelompok.

baca juga: 31 Tempat Wisata Outbound di Bandung Terfavorit

Jadi, lembang tidak melulu bicara soal wisata tetapi lebih dari itu, Lembang juga kaya akan budaya. Salah satunya adalah Ruwatan Lembur. Ruwatan Lembur ini secara rutin digelar oleh warga di Cibedug, Desa Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Dua kelompok itu seperti hendak bermain sepak bola sehingga mereka akan adu kuat untuk menemukan kelompok mana yang paling kuat. Yang ikut dalam prosesi perang ini sebetulnya tak hanya masyarakat biasa, tetapi juga para tokoh adat, pejabat desa hingga anak-anak.

Sahabat Bellvalers yang senang dengan dunia adventure outbound di Bandung ataupun Lembang, kalian harus tahu, bahwa Palagan Toya ini hanya dilaksanakan dalam durasi sekitar 10 menit. Di tahun-tahun yang lalu, alat yang digunakan untuk perang air itu adalah susu dan kopi yang dikemas di dalam sebuah bungkusan plastik bening.

Nah, tahun ini berbeda. Karena yang dipakai sebagai senjata bukanlah kopi, melainkan hanya air putih. Warga pun tampak antusias ikut berperang air dalam agenda Palagan Toya ini. Mereka sangat bersuka cita menjalani prosesi Palagan Toya ini.

Meski ada niat untuk menyerang lawan, bahkan sampai sangat bersemangat karena kapan lagi bisa menyerang kalangan pejabat desa ya, namun tetap saja usai berperang air mereka kembali damai dan bersalam-salaman.

Karena itulah, Lembang tidak hanya menjadi tempat wisata outbound semata, tapi juga memiliki budaya yang luhur yang masih dilestarikan sampai saat ini. Tak heran, bila banyak wisatawan yang datang berkunjung ke Lembang untuk berlibur.

Karena selain sejuk dan dingin, masyarakat Lembang juga berbudaya dan Lembang sendiri adalah daerah yang kaya akan budaya. Kepala Desa Cikole Lembang, Jajang Ruhiat mengatakan, ruwatan ini diikuti oleh lima RW di Cibedug. Ruwatan ini sendiri digelar sekali dalam setahun.

Tajuk yang dibawakan dalam Ruwatan Lembur kali ini adalah “Sastra Jendra Hayuningrat”. Ada filosofi di balik tema ini, yaitu berarti dalam dunia ini ada perlawanan di antara kebaikan dan kejahatan. Dan, kata Jajang, kejahatan tentu saja akan musnah dan kalah dari kebaikan.

Ruwatan Lembur juga merupakan momen untuk bersyukur pada Allah SWT atas keberkahan dan karunia yang dilimpahkan-Nya kepada masyarakat Lembang khususnya Cibedug, di mana sebagian besar masyarakat di sana bekerja sebagai petani.

Karena itu, bagi Bellva, Lembang sebetulnya juga menarik untuk dijadikan sebagai daerah agrowisata. Dengan begitu, pariwisata Lembang lebih kaya dan berwarna serta bernilai edukatif kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, Jajang mengungkapkan, Ruwatan Lembur harus dijadikan momentum untuk membuang berbagai hal yang kotor dalam hati, supaya kita bisa hidup jauh lebih bahagia. Momen ini juga baik untuk mengingatkan diri sendiri bahwa manusia harus selalu bergotong royong dan berbuat baik.

Jajang juga mengingatkan, meskipun Lembang ini kaya akan destinasi wisata dan namanya telah pamor di dalam maupun luar negeri, namun tetap saja pariwisata Lembang harus sejalan dengan pelestarian budaya dan alam. Apalagi, kita tahu di Lembang itu ada Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu yang terkenal sejak lama.

Dalam Ruwatan Lembur ini, diisi dengna berbagai kegiatan seni, misalnya Terbangan, Pasanggiri Pencug, Teluk Tilu, dan pementasan Wayang Golek. Pada hakekatnya, Ruwatan Lembur adalah bentuk mengikat dan menjaga tali silaturahim antarmanusia, dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here