3 Perubahan Tren Pariwisata Akibat Pandemi Covid-19

situ patenggang
Objek wisata di Bandung Selatan, Situ Patenggang. (Foto via @lina_falindrawisata)

Pandemi Covid-19 memicu perubahan tren pariwisata di seluruh dunia termasuk juga Indonesia, khususnya pariwisata di Bandung Jawa Barat. Ada beberapa hal yang perlu diadaptasi oleh para pelaku usaha di sektor pariwisata di mana pun berada.

Menurut Pembina Insan Pariwisata Indonesia (IPI) Guntur Subagja Mahardika, terdapat tiga perubahan tren pariwisata akibat pandemi Covid-19. Tiga perubahan bersifat mendasar dan mau tidak mau harus menjadi perhatian dan dasar bagi pelaku usaha pariwisata untuk kemudian beradaptasi dengannya.

Guntur menuturkan, pelaku usaha pariwisata harus menunjukkan kemampuannya dalam menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap perubahan maupun tren yang terjadi akibat pandemi.

Dia meyakini seluruh insan pariwisata mampu beradaptasi dengan tiga tren yang akan dijelaskan berikut ini, sebagaimana dilansir dari Republika.co.id.

Pertama, adalah perubahan Mega Trend yang berkembang sejak tahun 2000 yang mendorong transformasi ekonomi, revolusi industri, dan kini memasuki revolusi Industri 5.0.

Kedua, ialah technology trend, di mana perkembangan teknologi informasi dan digital menuntut industri pariwisata mampu mengadopsi teknologi informasi dalam semua aktivitasnya.

Ketiga, consumer trend, di mana perubahan perilaku konsumen, termasuk di sektor pariwisata, terjadi sangat cepat selama pandemi Covid-19 di dunia.

Guntur berpandangan, konsumen saat ini lebih senang bertransaksi dari rumah, menggunakan e-commerce, cashless, dan semuanya digital. Karena itu, industri pariwisata harus mampu merespons secara cepat dengan melakukan perubahan dan inovasi.

Guntur juga mengingatkan potensi besar ekonomi kreatif yang saat ini terkoneksi langsung dengan sektor pariwisata. Berdasarkan hasil riset Opus Creative Economic Outlook 2019, Indonesia berpotensi besar menjadi tiga besar negara ekonomi kreatif setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Industri pariwisata harus mampu memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi seiring dengan makin menurunnya kasus Covid-19. “Pariwisata harus menjadi motor pemulihan ekonomi karena memiliki multiplier effect luas,” katanya.

“Dengan bergeraknya sektor pariwisata, industri lainnya bergerak seperti transportasi, UMKM, kuliner, dan produk serta jasa lainnya,” tutupnya. []

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error: Sorry, you can\\\\\\\\\\\\\\\'t do this...
Scroll to Top